Total Tayangan Halaman

Kamis, 05 Januari 2012

Membangun Remitensi Produktif Bagi Mantan BMI




BANYUMAS. Remitensi Ekonomi Buruh Migran Indonesia (BMI) jika dikaji dari bentuk dan pola pemanfaatannya, dapat di ketegorikan menjadi dua hal, pertama, bersifat konsumtif, kedua, bersifat produktif.

Inilah hasil dari penelitian Dr. Tyas Retno Wulan, dosen Sosiologi Universitas Jenderal Sudirman (UNSOED) di dua kabupaten kantong buruh migran, Wonosobo dan Banyumas (2010).

Remitensi konsumtif yang dimaksud, seperti menutupi biaya hidup sehari-hari, membayar hutang, pesta nikah, membeli alat elektronik dan lain-lain. Investasi misalnya untuk membeli rumah, tanah, menyekolahkan anak, biaya melanjutkan kuliah bagi BMI itu sendiri dan lain-lain. Pemanfaatan produktif misalnya usaha counter handphone, angkutan, dan layanan fotocopy. Hal yang menarik, selain berwirausaha, merekan juga menyisikan pendapatan untuk kegiatan sosial seperti, pembangunan masjid, berkurban dan lain-lain.

Beberapa kisah sukses para BMI yang menggunakan remitensi ekonomi untuk sektor produktif seperti di atas memang tidak sedikit, namun sektor konsumtif di kalangan BMI juga cukup tinggi. Bagi BMI diakui atau tidak, godaan untuk memanfaatkan remiten kepada hal yang bersifat konsumtif juga banyak dijumpai.

Pada titik inilah menjadi penting memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan mengelola keuangan serta membangun wirausaha BMI menjadi penting. Bagi para mantan BMI pengetahuan tersebut penting agar tidak kembali bekerja ke luar negeri dan memiliki pendapatan alternatif untuk menghidupi keluarganya.

Selasa, 03 Januari 2012

Depresi Berat, Witri Anggraeni Masuk RSUD Banyumas


Ilustrasi

Ilustrasi

BANYUMAS. Irwan Jhoni, Kepala Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, 1 Desember 2011, menghubungi Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan ‘Seruni’, terkait kondisi Witri Aggraeni (23), mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengalami depresi berat sepulang bekerja di Malaysia. Bahkan menurut sang Kepala Desa, Witri sering mengamuk terhadap keluarganya.

Kondisi Witri Aggraeni membuat keluarga berinisiasi agar Witri direhabilitasi dengan meminta bantuan Seruni. Pihak keluarga terutama kedua orang tuanya, gigih mengupayakan agar anaknya cepat mendapatkan pengobatan medis.

Mendapat laporan tersebut Seruni langsung berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait, diantaranya Lembaga Penelitian Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) Purwokerto, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Satria Baturraden, agar Witri segera dibawa ke RSUD Banyumas yang memiliki layanan Poli Jiwa.

Witri Anggraeni adalah anak pasangan Minem dan Kasidi. Akhir tahun 2010, ia ditemukan petugas jalan raya di Tol Bandara Soekarno-Hatta dalam kondisi depresi berat. Witri Anggraeni sempat membagi-bagikan uang kepada orang yang ia temui di jalan. Tidak ada yang tahu penyebab ia depresi. Kasus ini sudah dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyumas.

Pada 3 Desember 2011, Seruni mendatangi rumah Witri yang berlamat di RT 01/01 Gandatapa Sumbang, untuk berkoordinasi dengan keluarga. Kepada pihak desa, Seruni minta agar semua persyaratan administrasi segera dipersiapkan termasuk Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), karena keluarga Witra tidak menerima asuransi kesehatan Jamkesmas.

Selasa 6 Desember 2011, RSUD Banyumas menjemput Witri di rumahnya. Terjadi negosiasi yang susah dengan Witri. Namun setelah dibujuk keluarga dengan alasan akan berwisata, Witri ahirnya mau masuk mobil yang dibawa langsung dari rumah sakit.

Keluarga merasa senang, karena anaknya mau berobat secara medis. “Terima kasih mas.” Ucap ayah Witri, kepada Seruni yang memfasilitasi keluarga dengan pihak rumah sakit.

Sabtu 10 Desember 2011, Narsidah Sanwi dari Seruni datang ke RSUD Banyumas untuk melihat perkembangan Witri. Petugas ruang isolasi ‘Sakura’, Sutini, menjelaskan bahwa kondisi Witri sudah lebih baik. Perangainya tenang, rutin minum obat, dan juga sudah lebih mudah diajak komunikasi dengan orang lain.

Saat Seruni datang menjenguk, Witri sedang tidur dan tidak boleh dibangunkan. Selama pengobatan di Poly Jiwa RSUD Banyumas, keluarga senantiasa bergantian untuk menjaganya. Sebelum mendapat pelayanan pengobatan medis, Witri sudah melakukan pengobatan alternatif yang diupayakan oleh keluarganya dan dibantu oleh pihak PPTKIS yang memberangkatkan ke Malaysia, yaitu PT. Phinisi Purwokerto. Namun upaya tersebut belum mendatangkan keberhasilan. (SusWoyo)

Dokumen Dibakar, Parsem Susah Mengadu


BANYUMAS. Perjalanan panjang Parsem, sebagai buruh migran, memang cukup memprihatinkan. Perempuan yang lahir 21 Januari 1975, warga Karangsari, RT 02/02, kecamatan Kembaran, Banyumas, mengadukan permasalahannya, kepada Seruni awal November 2011 lalu, dengan didampingi suaminya Rahmat Pardiyanto (40)
Awalnya, karena terdesak kondisi ekonomi keluarga dan ditambah lagi dengan janji sponsor yang menggiurkan, sehingga Parsem nekad untuk menjadi TKI ke Malaysia. Tanggal 27 Oktober 2009 Parsem diberangkatkan oleh PPTKIS Sarimadu yang beralamat di Purbalingga ke Malaysia.

Di Malaysia, Parsem bekerja pada majikan bernama Lee Hok Ming. Dengan majikan beretnis Cina ini Parsem hanya mampu bertahan satu bulan. Karena menurut keterangan Parsem, anak-anak majikan sangat nakal dan suka memukul. Akhirnya Parsem meminta kepada agen untuk dipindahkan majikan.

Pada majikan kedua Parsem dipekerjakan di dua tempat yaitu di rumah dan di kedai roti. Di kedai roti, Parsem setiap hari harus mencuci perlatan yang digunakan untuk membuat roti dengan menggunakan pemutih dan tanpa sarung tangan, hingga mengakibatkan tangan sakit dan bernanah.

Selain itu Parsem juga sering dituduh mencuri oleh majikan dan diancam akan dilaporkan ke polisi. Namun sebelum dilaporkan oleh majikan, Parsem lebih dulu melapor bahwa dirinya tidak pernah mencuri barang-barang milik majikan seperti yang dituduhkan pada dirinya. Akhirnya majikan menjemput kembali Parsem di kantor polisi dengan menebus 100 RM. Majikanpun marah dan memukul Parsem.

Tidak cuma itu saja, majikan juga sering menghukum Parsem dengan disuruh mencuci pakain hingga pukul tiga pagi, Parsem dilarang berkirim surat kepada keluarga apalagi menelfon.
Setelah berusaha sekuat tenaga, Parsem hanya mampu bertahan 9 bulan pada majikan ke 2.

Setelah itu Parsem meminta kepada agen untuk dicarikan majikan baru lagi. Tapi bukan majikan yang didapat malinkan Parsem dipulangkan ke Batam oleh agen. Sebelum naik kapal, di pelabuhan Parsem disuruh tanda tangan tanpa diberitahu isinya, dan tidak diperbolehkan membaca.

Sesampainya di Batam, dalam keadaan bingung , Parsem bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Ibu Nisa, yang ternyata adalah seorang tekong atau calo TKI dari NTB

Parsem ditampung selama 2 bulan dirumah Ibu Nisa. Dan ahirnya ia dibantu masuk kembali ke Malaysia melalui jalur illegal. Pada 15 Juli 2011, Parsem pulang ke tanah air dengan tangan kosong.

Rahmat Pardiyanto, sang suami, merasa sangat jengkel dengan melihat kondisi istrinya yang tanpa hasil. Apalagi kondisi dirinya yang hanya sebagai seorang karyawan rendahan dengan penghasilan tak kalah rendahnya di pabrik mie, menjadikan pikirannya makin kalut. Sementara ketiga anaknya sudah sekolah. Ahirnya Rahmat Pardiyanto, membakar semua dokumen istrinya sampai tak ada yang tersisa.

Ia baru menyesal, saat diberitahu oleh Seruni, bahwa pengaduan tanpa disertai dokumen, akan mengalami kesulitan. Namun demikian, Seruni akan tetap berusaha membantu Parsem dan keluarganya dengan mengontak beberapa lembaga terkait, terutama untuk kelangsungan sekolah anak-anak Parsem. (SusWoyo)

Tim Reaksi Cepat Satria Sambut Baik Perlindungan Anak Keluarga Migran


Bayumas — Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan Seruni Banyumas menghadiri koordinasi dan sosialisasi Tim Reaksi Cepat (TRC) penanganan anak (23/11/2011). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panti Sosial Petirahan anak (PSPA) Satria, Baturraden Banyumas. TRC dibentuk sejak 18 Juni 2011.

Kepala PSPA ‘Satria’ Baturraden, Restriyaningsih, dalam sambutannya menyebutkan bahwa TRC dibentuk untuk menangani secara cepat anak-anak korban bencana alam dan kekerasan fisik oleh orang tua atau pihak lain. Perempuan yang akrab disapa Bu Ning ini juga meminta lembaga-lembaga yang hadir, seperti Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapermas), Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Korban Berbasis Gender (PPT-PKBGA), Panti-Panti Asuhan, Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan ‘Seruni’ Banyumas, dan RRI untuk turut mensosialisasikan tim ini kepada masyarakat. Organisasi-organisasi yang hadir juga diminta untuk bekerjasama dalam penanganan persoalan perlindungan anak.

Sejak didirkan TRC PSPA Satria telah menangani beberapa persoalan korban Merapi, bencana alam di Kemawi Banyumas, dan juga kekerasan fisik yang pernah dialami seorang anak di Banjarnegara. Hesti Ambar Widagdo, Koordinator TRC PSPA Satria, dalam pemaparan visualnya menampilkan foto-foto kegiatan di beberapa tempat, seperti Magelang, Banyumas dan Banjarnegara.

“Tim Reaksi Cepat kami sudah bergerak, walaupun baru beberapa waktu didirikan. Kami siap berkoordinasi dengan lembaga sosial manapun, baik pemerintah, LSM atau yang lainnya untuk menyelesaikan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ” Ujar Ambar yang disambut antusias peserta.

Seruni yang diwakili Lili Purwani dan Suswoyo, turut memberi saran agar TRC PSPA menyentuh persoalan-persoalan yang dialami anak-anak keluarga migran. Kasus kekerasan dan persoalan anak keluarga buruh migran, atau yang kerap dikenal Tenaga Kerja Indonesia (TKI), juga tak kalah banyak dan membutuhkan pendampingan.

“Kami banyak menemukan anak-anak keluarga migran, terutama mereka yang gagal sebagai TKI, terus jatuh miskin, lantas anak terbengkalai sekolahnya. Atau anak-anak yang orang tuanya terkena kasus di luar negeri, yang berdampak secara psikologis terhadap anak-anaknya. Yang demikian itu sudah pasti membutuhkan penangananan perlindungan yang cepat. Kami minta TRC PSPA ‘Satria’ ke depan bisa terjun lebih dalam ke permasalahan anak migran ini” ujar SusWoyo.

Masukan Seruni disambut baik oleh Sekretaris Tim Reaksi Cepat PSPA ‘Satria’ Baturraden Arif Putranta. Kepala PSPA Satria Baturraden turut memberikan kesempatan kepada Seruni untuk berdiskusi tentang perlindungan anak keluarga Migran. Ajakan berkolaborasi tersebut mendapat sambutan positif dari Lili Purwani selaku ketua Paguyuban Peduli Buruh MIgran dan Perempuan Seruni. (**)

Seruni Banyumas, Jembatani Penanganan Bersama Kasus Admini


Admini, TKI asal Banyumas yang putus kontak dengan keluarga selama 9 tahun

Admini, TKI asal Banyumas yang putus kontak dengan keluarga selama 9 tahun

Paguyuban Perlindungan Buruh Migran dan Perempuan SERUNI Banyumas melakukan koordinasi dengan pelbagai pihak guna menanganani kasus Admini (Baca: Admini, TKI Banyumas 9 Tahun Putus Kontak dengan Keluarga). Beberapa pegiat Seruni sempat berbincang-bincang dengan Kartiman, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Tranmsigrasi, Kabupaten Banyumas terkait kasus Admini (22/11/2011).

Sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, nama ini sudah sempat kami lacak dengan BNP2TKI. Namun mengalami kebuntuan, karena ternyata alamatnya tidak jelas.” tutur Kartiman di sela-sela acara sosialisasi perlindungan anak di Rumah Makan Taman Pringsewu Baturraden, Purwokerto.

Selain mengirim aduan ke BNP2TKI, kolaborasi penanganan kasus juga dilakukan bersama pelbagai lembaga pemerintah di daerah dan Suparman, staff penanganan kasus Pusat Sumber Daya Buruh Migran (PSD-BM) di Jakarta. Penggalangan informasi dari relawan di Arab Saudi juga dilakukan Seruni dengan memanfaatkan media jejaring sosial di internet.

Saat beberapa pegiat Seruni berkunjung ke rumah Admini, Senin 21/11/2011, Madmungi dan keluarganya sangat berharap anaknya segera pulang dan meminta kepada pihak PT. Avida Aviaduta untuk ikut menangani dengan serius kasus ini.

9 Tahun Keberadaan Admini Tidak Jelas


Admini, TKI asal Banyumas yang putus kontak dengan keluarga selama 9 tahun

Admini, TKI asal Banyumas yang putus kontak dengan keluarga selama 9 tahun

Paguyuban Perlindungan Buruh Migran dan Perempuan SERUNI Banyumas terus berupaya memperjuangkan penyelesaian kasus Admini, pekerja migran asal Banyumas yang putus kontak selama 9 tahun dengan keluarga. (baca reportase Suswoyo: Admini, TKI Banyumas 9 Tahun Putus Kontak dengan Keluarga)

Menurut keterangan Madmungi, ayah Admini, keluarga pada akhir tahun 2002 pernah mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera di sampul surat yang dikirim Admini. Suginah, mantan pekerja migran di Arab Saudi sekaligus sepupu Admini menjadi wakil keluarga untuk menghubungi nomor tersebut. Berbekal kemampuan berbahasa Arab yang fasih, Suginah tersambung berhasil tersambung dengan majikan Admini melalui sambungan telepon.

“Jawaban sang majikan saat itu adalah Kamu tidak boleh menghubungi pekerja di rumah saya.” tutur Suginah, menirukan ucapan majikan Admini. Sejak kejadian tersebut sampai sekarang nomor telepon yang diberikan Admini tidak aktif.

Sekitar tahun 2005, Madmungi, ayah Admini, nekat ke Jakarta untuk meminta informasi tentang keberadaan anaknya kepada pihak PT. Avida Aviaduta yang memberangkatkan anaknya. Menurut Madmungi, pihak PT menyatakan akan berusaha mencari keterangan tentang keberadaan anaknya. Saat itu pihak keluarga hanya disuruh bersabar menunggu perkembangan informasi dari PT. Avida Aviaduta.

PT. Avida Aviaduta sebagai perusahaan yang mengurus proses penempatan Admini di Arab Saudi terbukti benar-benar tidak serius mengupayakan informasi tentang keberadaan Admini. Pihak keluarga dipaksa menunggu selama 6 tahun (2005-2006) tanpa kepastian kabar dari PT. Avida Aviaduta.

PT. Avida Aviaduta sebagai perusahaan pelaku penempatan Admini sebagai TKI di Arab Saudi tidak kunjung memberi kepastian atas posisi dan peluang melakukan kontak dengan Admini.

Dino, sepupu Admini, memberikan informasi, pada hari Rabu (23/11/2011) pihak keluarga kembali menghubungi PT Avida Aviaduta untuk minta alamat majikan Admini di Arab Saudi. Pihak PT Avida Aviaduta saat itu menolak dan tidak memberikan alamat majikan. Pihak keluarga Admini hanya diberi nama majikan, yaitu Muhammad Soleh Al Jarri, dan sebuah nomor telepon. Namun keluarga gagal menghubungi karena nomor yang diberikan PT ternyata tidak valid.

Senin, 14 November 2011

SERUNI Usulkan Agar Anggaran TKI Ditambah


Lili Purwani, Ketua Paguyuban Seruni Banyumas saat menemui beberapa pejabat pemerintah untuk menangani kasus TKI

Lili Purwani, Ketua Paguyuban Seruni Banyumas saat menemui beberapa pejabat pemerintah untuk menangani kasus TKI

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyumas, 1 November 2011, mengundang beberapa elemen masyarakat di acara dengar pendapat (Public Hearing). Acara digelar di gedung Paripurna DPRD Kabupaten Banyumas itu cukup menarik bagi kalangan yang diundang.

Diantara elemen masyarakat yang hadir antara lain kalangan akademisi, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Purwokerto dan elemen masyarakat lainnya, termasuk Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan ‘Seruni’ Banyumas.

Dengar pendapat dilaksanakan dalam rangka penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) yang merupakan dokumen perencanaan dan penganggaran untuk melandasi penyusunan APBD berdasarkan Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Kebijakan Umum belanja daerah untuk kabupaten Banyumas tahun anggaran 2012 direncanakan sebesar Rp. 1.778.030.245.662,-.

“PDI-P sebagia partai yang terus berkomitmen terhadap rakyat kecil, sangat berharap dari forum public hearing ini, banyak masukan-masukan positif untuk fraksi kami. Sehingga anggaran yang sedikit ini, nantinya bisa bermanfaat dan tepat sasaran.” ungkap Ketua PDI Perjuangan Banyumas, dr. Budhi Setyawan dalam sambutannya.

Fraksi PDI Perjuangan yang beranggotakan 13 orang itu hadir 11 orang, termasuk Juli Krisdiyanto, SE yang merupakan Ketua DPRD kabupaten Banyumas. Pada forum tersebut Paguyuban SERUNI Banyumas sebagai satu-satunya paguyuban Buruh Migran di Banyumas, memberikan masukan, agar anggaran untuk Tenaga Kerja Indonesia ditingkatkan.

“Tahun 2010, TKI asal Banyumas, memberikan kontribusi cukup besar bagi Kabupaten Banyumas, yaitu sebesar 332 milyar rupiah. Artinya melebihi PAD yang berjumlah 148 milyar. Saat ini anggaran untuk TKI dirasa sangat sedikit, hanya 60 juta rupiah, itu pun lebih banyak masuk ke asuransi kematian. Sedangkan untuk penanganan kasus-kasus TKI, hampir-hampir tidak ada. Kami mohon 2012, anggaran untuk TKI Banyumas ditingkatkan.” tutur Lili Purwani, Ketua Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan ‘Seruni’ Banyumas.

Keinginan SERUNI langsung disambut antusias oleh Lulin, sekretaris fraksi PDI-P Banyumas. “Kami siap memeperjuangkan ini.!” tuturnya.

Selesai acara, beberapa anggota fraksi,diantaranya Sardi Susanto dan dr. Budi Setyawan, terlibat perbincangan serius dengan Narsidah, Pegiat Seruni, terkait maraknya TKI Banyumas yang terkena berbagai macam kasus akhir-akhir ini. (SusWoyo)

Mendiskusikan Sosok Bapak dalam Keluarga Migran

Foto Suami TKI di Banyumas saat mengikuti kegiatan Hibah Pemberdayaan Masyarakat UI

Foto Suami TKI di Banyumas saat mengikuti kegiatan Hibah Pemberdayaan Masyarakat UI

BANYUMAS. Tim Hibah Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Jakarta mengadakan kegiatan untuk keluarga migran (29-30/11/11). Kegiatan dengan tema “Pemberdayaan untuk Bapak dalam Pengasuhan Anak Keluarga Migran” diselenggarakan di Balai Pertemuan RW 18, Dusun Ciuyah, Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dusun Ciuyah yang dikelilingi hutan pinus milik Perum Perhutani tersebut terletak 60 km arah barat Kota Purwokerto.

Kegiatan yang diikuti oleh 16 orang bapak atau suami TKI yang telah memiliki anak dan sedang ditinggal istrinya bekerja di luar negeri tersebut, cukup menarik perhatian Moch Enoch Markum, guru besar Sosiologi Universitas Indonesia (UI). Professor berusia 74 tahun itu khusus datang bersama istrinya dari Jakarta untuk melihat langsung kehidupan keluarga migran di Dusun Ciuyah.

“Anda adalah laki-laki hebat. Bertahun-tahun ditinggal istri bekerja di luar negeri masih tahan. Dengan kehebatan itulah, saya berharap kegiatan ini bisa menjadikan bapak-bapak lebih sukses dalam menapaki hidup dimasa yang akan datang.” tutur Moch Enoch Markum dalam sambutannya saat membuka acara.

Sebanyak 16 orang suami TKI yang mengikuti acara tersebut merupakan hasil seleksi sangat ketat dari Tita Naovalitha, mahasiswa Psikologi UI yang sedang menempuh program S-2 sekaligus Tim Hibah UI. 16 peserta tersebut adalah suami TKI yang mempunya anak usia 4 sampai 5 tahun dan masih duduk di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kegiatan tersebut menyajikan pelbagai materi untuk peserta. Mira K Putri, Psikolog dari Jakarta memaparkan tentang teknik pengasuhan anak. Sesi selanjutnya diisi oleh Yayah Sabariyah, Pegiat Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) Jakarta yang menyampaikan materi tentang menejemen keuangan buruh migran. Tita Naovalitha, mahasiswa magister di UI Jakarta, yang sedang membuat tesis tentang sisi psikologi anak keluarga Migran, di dusun Ciuyah turut mengupas sisi psikologi anak yang ditinggal sang ibu bekerja di luar negeri.

Pada kesempatan yang sama Lili Purwani dari Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan SERUNI Banyumas juga berbagi cerita tentang pengalamannya sebagai buruh migran dan kisah tentang penanganan pelbagai macam kasus yang menimpa TKI.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim dari Universitas Indonesia, yang telah mengadakan acara sangat bermanfaat bagi warga kami. Saya berharap dari pemberdayaan ini masih ada kelanjutannya. Tidak berhenti hanya sampai disini.” tutur Kepala Desa Cihonje, Joko Isnuroso, disela-sela acara.

Hari kedua berlangsung sedikit berbeda dengan kehadiran Sudar, Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyumas yang turut berbagi dan mendengar pendapat dari peserta.

“Disinilah bapak-bapak bisa curhat apa saja, bisa mengeluh apa saja tentang perasaan seseorang yang ditinggal pergi bekerja oleh istri ke luar negeri. Dan tentunya nanti akan mendapat arahan yang baik dari tim Universitas Indonesia Jakarta” kata Sudar, Anggota Dewan dari Partai Golkar.

Dede Sukendar (37), salah satu peserta yang istrinya sedang bekerja di Taiwan juga sangat mengapresiasi positif kegiatan yang baru pertama kali ini berlangsung di daerahnya.

“Dengan kegiatan ini, kami jadi bisa mengetahui ilmu tentang mengasuh anak yang baik, juga tentang bagaimana kita berbuat positif selama ditinggal bekerja istri di luar negeri. Terus terang saja, sebagai manusia normal, kami sebenarnya mempunyai banyak problem pribadi, yang selama ini bingung untuk kemana diadukan. Kegiatan ini pas untuk kami” kata lelaki yang kesehariannya menjadi tukang ojek ini.

Pada akhir acara 16 orang peserta kegiatan ini berhasil merumuskan visi Kelompok Bersama, yaitu membentuk kelompok yang kuat, dengan kegiatan bermanfaat untuk meraih masa depan yang gemilang. (SusWoyo)

Senin, 17 Oktober 2011

Menjadi TKW, Demi Investasi Pendidikan Anak


BANYUMAS. Rakinah (57), tersenyum lebar. Raut mukanya kelihatan sangat cerah. Barangkali, inilah cermin bahwa hatinya sedang sangat damai. Ketiga anaknya sedang berkumpul dan cucu-cucunya juga ikut meramaikan suasana rumah perempuan itu.

Kondisi demikian, mungkin tak kan pernah tercipta jikalau wanita yang berasal dari desa Cihonje, Gumelar, Banyumas itu, 15 tahun yang lalu tidak mengambil sebuah keputusan besar, ketika suaminya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga anaknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar.

Menikah lagi? Atau bekerja untuk membiayai sekolah anak? Keduanya mempunyai resiko. Menikah lagi, tentu akan segera mendapatkan pendamping hidupnya, tapi belum tentu nantinya sang suami baru itu mau menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang sekolah lanjutan atas. Bekerja? Tentu akan bisa mendapatkan biaya untuk meneruskan sekolah anak-anaknya. Tapi ia harus rela menjanda dulu dalam waktu yang cukup lama tentunya.

Perempuan itu dihadapkan pada dua masalah yang semuanya baik. Tapi ia harus tetap memilih. Karena konsekwensi hidup demikian adalah harus memilih dan harus membuat sebuah keputusan besar.

Ahirnya, ia memilih untuk bekerja. Tiga anaknya dititipkan kepada kakek neneknya. Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan tanah air menuju Arab Saudi untuk bekerja sebagai penata laksana rumah tangga, alias pembantu.

Waktu terus berjalan, ia berkomitmen bahwa ketiga anaknya harus bisa sekolah, minimal sampai lanjutan atas. Sehingga dengan impian seperti itu, ia dengan sekuat tenaga ingin membuktikannya.

Kalau orang lain, bekerja di luar negeri lantas segera membuat rumah bagus, perempuan ini lain . Rumahnya dibiarkan apa adanya dulu. Masih seperti semasa suaminya hidup, belum bertembok semen. Ia sedang fokus untuk menginvestasikan ilmu kepada anak-anaknya lewat lembaga pendidikan berupa sekolah.

Tetangganya pernah mengkritik bahwa menyekolahkan anak ke kota, apalagi sampai tingkat lanjutan atas, itu sama artinya mendaftar jadi orang miskin. Karena biaya yang dikeluarkan tentunya besar. Namun kritikan itu tak pernah ia pedulikan. Ia biarkan rumahnya dari bambu, asal anak-anak bisa melanjutkan sekolah.

Sepuluh tahun kemudian, perempuan itu tersenyum. Beratnya menghadapi para majikan tanah Arab, tak sebanding dengan sukses ketiga anaknya bisa menamatkan sekolah. Anak yang pertama, yang punya bakat menjadi pendidik, berkarir sebagai seorang pembimbing rohani di sebuah departemen milik pemerintah. Anaknya yang kedua, lulus dari SMK akuntansi, menapaki hidup sebagai seorang wirausahawan, dengan membuka warung kelontong di depan rumahnya. Yang terahir, laki-laki yang punya kelebihan di elektronik, setamat dari SMK elektro, membuka usaha bengkel televisi dan kulkas.

Perempuan yang kini mulai berumur itu masih mengumbar senyum. Menikmati hasil usaha kerasnya puluhan tahun dibawah aturan majikan negeri raja Fadh. Jika dulu ia memutuskan untuk menikah lagi, mungkin arah nasibnya juga akan lain.

Bak seorang Hamka, ia bertutur: “Anak-anak kecil begitu menyenangkan hati orang tuanya karena lucunya, dan ketika menginjak dewasa akan membahagiakan orang tuanya karena sukses dalam hidupnya”.

Ahirnya, siapapun orangnya, entah itu dosen atau guru TK, entah itu majikan atau pembantu rumah tangga, entah itu pengusaha atau pengangguran, tetap harus mau membuat keputusan besar dalam hidup ini, jika ingin sukses!

Dan Rakinah, di tahun 2011 ini, telah sukses mengegolkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi darinya, di tengah 4.900 anak usia SLTP di kabupaten Banyumas, tak bisa melanjutkan sekolah, karena ketiadaan biaya. (SusWoyo)

Jumat, 14 Oktober 2011

Abu Kecewa Penempatan TKI di Brunei Tidak Sesuai Kompetensi

Abu Kecewa Penempatan TKI di Brunei Tidak Sesuai Kompetensi

Abu Rizkon sangat kecewa dengan kebohongan calo dari sebuah Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang memberangkatkan dirinya. Laki-laki yang beralamat di Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Banyumas itu merasa diperlakukan tidak jujur saat ia mendaftar untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Brunei Darussalam.

Abu tertarik dengan lowongan bidang peternakan dan sopir pribadi yang diinformasikan sang perekrut tersebut. Namun ketika visa itu turun, ternyata pekerjaan yang tertulis di visa itu adalah grass cutting alias tukang rumput. Laki-laki itu kecewa. Ketika mengadu pada calo yang akan memberangkatkannya, jawaban yang diterima hanya “Berangkat saja, jangan terlalu banyak memilih.”

Abu sangat kecewa dengan jawaban tersebut. Abu tidak bisa membela diri dengan kenyatan seperti itu dan akhirnya terpaksa ia harus berangkat. Ternyata benar sekali, saat hari pertama bekerja, ia harus menggendong mesin rumput bersama teman-teman lain yang berkebangsaan India dan Bangladesh.

Selama seminggu bekerja, Abu sakit. Ia tak ada selera makan. Ia tak tahan bekerja di bawah terik matahari dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Ia merasa fisiknya tak setangguh teman-temannya yang dari kawasan Asia Selatan.

Ketika mengadukan beban kerja yang diterimanya pada agen yang memberangkatkan, ia justru menerima jawaban yang kurang memuaskan dan sangat memojokkan dirinya. Sampai pada akhirnya, ia dinilai oleh majikannya tidak bisa bekerja seperti para pekerja yang lain, yang berasal dari India dan Bangladesh.

“Kamu harus pulang ke Indonesia. Aku rugi punya pekerja macam kamu. Besok kuantar pulang lewat Pontianak.” kata Rusli Zakaria seperi ditirukan Abu Rizkon.

Abu pasrah setelah mengadu ke agen dan KBRI tidak berhasil, bahkan hanya menerima cemoohan. Pada ahirnya ia dipulangkan lewat jalur darat oleh majikannya. Menggunakan bus, ia dibelikan tiket menuju Pontianak, Kalimantan Barat, melalui Kuching, Malaysia Timur. Dan ahirnya ia naik kapal laut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

“Biar saya saja yang mengalami nasib demikian. Saya tidak ingin ada keluarga saya, atau siapapun yang bernasib pedih seperti saya. Saya ingin para penguasa tahu hal yang seperti ini. Saya kecewa dengan agen yang memberangkatkan dan pihak kedutaan”

Laki-laki itu sekarang sudah di Indonesia, dengan goresan luka yang banyak. Ia berharap pada PPTKIS untuk berbuat jujur. Kalau tidak ada jenis pekerjaan yang sesuai kemampuan calon pekerja, kenapa harus berbohong?, bukankah ketidaksesuaian kompetensi seorang calon pekerja dengan jenis pekerjaan yang ada akan memuculkan pelbagai persoalan saat calon pekerja sudah berada di negara tujuan?. Abu juga berharap pemerintah lebih peduli dengan para TKI yang pulang ke tanah air dengan kegagalan. (Sus Woyo)

Fenomena TKI: Para Suami TKI Butuh Pendampingan Khusus

Fenomena TKI: Para Suami TKI Butuh Pendampingan Khusus

Suwedo (45), Kepala Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah, sempat termenung sejenak saat Suswoyo, salah satu pegiat Paguyuban Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas bertanya tentang kondisi buruh migran di desanya. Saat ditemui di Kantor Desa, lelaki yang biasa disapa Edo itu menyampaikan rasa kecewa yang luar biasa atas prilaku para suami buruh migran di desanya. Sang Kepala Desa menilai para lelaki yang ditinggal istrinya ke luar negeri tersebut tidak berbuat amanah. Sementara sang istri menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang, para suami banyak yang menyelewengkan hartanya.

Memang tidak semua laki-laki yang ditingal istrinya berbuat demikian, tetapi perbuatan negatif mereka cukup menjadikan kesan yang kurang sedap di mata kebanyakan orang.” ujar Kepala Desa dengan ekspresi sangat kecewa.

Suwedo menuturkan, para pria itu, kerap berkumpul bersama di suatu tempat. Karena merasa senasib (baca: ditinggal istri bekerja ke luar negeri), pertemuan mereka sering menjadi asyik. Mirip seperti kelompok arisan, mereka secara bergantian berkumpul dari satu rumah anggota ke rumah anggota yang lain. Terkadang, suatu waktu mereka bersama-sama pergi ke lokasisasi.

Menurut Suwendo uang kiriman istri di luar negeri begitu saja dihambur-hamburkan antar anggota kelompok. Bahkan, mereka juga memiliki tradisi buruk, yakni saling mentraktir minuman keras.

Apa yang disampaikan Kepala Desa Pekaja tersebut bukanlah isapan jempol. Hal ini juga diakui langsung oleh Warsun (32), laki-laki yang ditinggal kerja istrinya di Malaysia.

Sekadar untuk hiburan mas. Nggak ada istri itu sebenarnya stress.” ujar laki -laki yang foto istrinya menjadi cover buku “Jalan Pulang yang Panjang” karya Sim Chi Yin, jurnalis “The Strait Time”.

Warsun yang sehari-hari bekerja sebagai tukang batu, juga menikmati hidup di komunitas tersebut. Warsun merasa ada yang hilang manakala satu hari saja tidak meminum minuman beralkohol. Baginya minuman terlarang itu adalah hiburan tersendiri untuk mengobati kesendiriannya di tinggal istrinya bekerja di luar negeri. Bagi Kepala Desa seperti Suwedo, perilaku Warsun dan kelompoknya itu menjadi perhatian khusus yang harus segera dicarikan jalan keluar.

Kami berharap ada lembaga atau apapun yang peduli dengan perilaku masyarakat ini, paling tidak ada semacam pembinaan mental bagi para suami, agar selama ditinggal bekerja di luar negeri oleh istrinya mereka tidak berbuat negatif.” tutur Suwendo.

Keprihatinan serupa juga diungkapkan Narsidah Sanwi, pegiat Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas. “Yang jelas sangat memprihatinkan. Satu sisi, istri sedang mencari nafkah untuk perbaikan ekonomi, disisi lain dia (TKI) harus berpisah dengan keluarga (suami). Seharusnya para suami harus bisa berpikir lebih dalam, harus saling mendukung. Boleh dikatakan istri yang sedang menjadi TKI telah menggantikan peran suami sebagai pencari nafkah utama. Suami yang ditinggalakan bekerja di luar negeri perlu pembekalan tersendiri.” tutur Narsidah.

Rabu, 12 Oktober 2011

Sugiyani, TKI Asal Banyumas, Kisah dan Fotonya Diabadikan di Buku Internasional

Sugiyani, TKI Asal Banyumas, Kisah dan Fotonya Diabadikan di Buku Internasional

Tidak ada yang menyangka sebelumnya, kalau Sugiyani (29), seorang perempuan asal Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah akan menjadi cover buku yang beredar di seluruh dunia. Gara-garanya adalah, Sim Chi Yin, jurnalis “The Strait Time” asal Singapura, yang tertarik dengan kehidupan para Buruh Migran Indonesia (BMI).

Ketertarikan Sim Chi Yin menulis tentang BMI, awalnya karena ia sering melihat banyak buruh migran bunuh diri saat bekerja di Singapura dan mereka kebanyakan adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sim Chi Yin kemudian tergugah untuk bertanya, ada apa di balik itu semua?.
Dia menulis tentang buruh migran bertujuan untuk memberitahu para majikan dan masyarakat Singapura tentang kehidupan TKI ketika di kampung halaman. Sebagian TKI perempuan atau biasa disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW) adalah seorang ibu bagi anak-anaknya, TKW juga menjadi seorang istri, TKW mempunyai keluarga, dan mempunyai orang-orang yang disayangi. Semua hal itulah yang disoroti Sim Chi Yin agar para majikan mengetahui lebih dalam tentang TKI, sehingga mereka lebih memanusiakan TKI.

Buku yang ditulis Sim Chi Yin berjudul “Jalan Pulang yang Panjang ” (The Long Road Home), diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dengan sampul muka, seorang perempun muda memakai pakaian butut dan sandal jepit sedang berjalan keliling desa untuk menjual “mendoan”, makanan khas Banyumas, yang terbuat dari tempe.

Perempuan muda di sampul buku itu adalah Sugiyani (29). Seorang ibu muda yang menyimpan segudang kisah kehidupan, terutama perjalanan hidupnya sebagai seorang buruh migran. Tak berlebihan jika Sim Chi Yin, yang tulisannya sering muncul di The New York Times, International Herald Tribune, dan Los Angeles Times, memilih perempuan yang kehidupan selepas sekolahnya habis untuk berjuang di negeri seberang tersebut.

Sugiyani adalah salah satu potret dari sekian banyak TKI perempuan dengan kisah kehidupan yang menyentuh sebagai pekerja rumah tangga. Dia juga pernah menjadi bagian dari pekerja Indonesia yang berhadapan dengan majikan-majikan sadis. Seperti halnya TKI lain, ia juga merasakan situasi jauh dari keluarga, merasa kesepian dan frustasi. Sebagai TKI, Sugiyani pernah bekerja di Arab Saudi, Uni Emirat, Singapura dan sekarang di negerinya Mahathir Mohammad, Malaysia.

“Mendengar dan membaca kehidupan Sugiyani, bagaikan membaca novel religi, yang di dalamnya banyak mengandung hikmah bagi kehidupan ini…” kata Elly, mahasiswa Sosiologi Unsoed yang sedang mengamati persoalan buruh migran di Banyumas.

Menurut Elly (19), jika ada tokoh utama pasti ada tokoh lain yang mempengruhi kehidupannya. Di sekeliling Sugiyani, tentu ada suami, istri, dan orang tuanya. Merekalah yang banyak mempengruhi perjalanan hidupnya.

Saat potret Sugiyani dipilih ia menjadi sampul buku, menurut Elly, diharapkan tidak hanya sekadar sampul yang menjadi goresan sejarah saja, namun lebih berdampak terhadap perbaikan penanganan berbagai kasus TKI.

Masih menurut Elly, aktivis mahasiswa itu menyampaikan kisah dan pengalaman yang dialami Sugiyani beserta orang-orang di sekitarnya, tentu sangat menarik untuk diteliti dan disampaikan ulang pada masyarakat, khususnya komunitas BMI dan masyarakat di negara tujuan TKI. Bagaimanapun juga, suami yang ditinggal istri bekerja ke luar negeri, tentu mempunyai segudang kisah. Anak TKI yang bertahun-tahun diasuh oleh seorang nenek, tentunya jauh berbeda dengan mereka yang langsung diasuh oleh ibu kandungnya.

Warsun, suami Sugiyani dan juga Rola, anak semata wayangnya, tak pernah menyangka istrinya akan dijadikan sampul buku yang disponsori oleh organisasi perburuhan internasional, ILO. Bahkan ketika dihubungi Narsidah, pegiat pada Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni”, Warsun sempat kaget. Dulu, Sim Chi Yin memang pernah tinggal satu minggu di rumahnya. Tapi ia tak mengira hasil jepretan foto itu akan dijadikan buku, dan istrinya menjadi sampul buku tersebut.

Ketika ia dan anaknya diundang untuk hadir dalam launching buku “Jalan Pulang yang Panjang” tersebut di Taman Ismail Marzuki, istrinya yang masih bekerja di Kuala Lumpur Malaysia, melarangnya. Alasan Sugiyani karena takut terjadi apa-apa dengan suami dan anak semata wayangnya.

Namun ketika diyakinkan oleh Sudirman, Sekretaris Desa Pekaja, Warsun menjadi tambah percaya diri. Menurut Narsidah yang mendampinya saat peluncuran (launching) buku Esai foto tersebut (29/09/2011), Warsun dan anaknya sangat menikmat acara tersebut.

Saat diJakarta kemarin Sim Chi Yin berhasil menghubungi Sugiyani yang sedang bekerja di Malaysia. Sugiyani yang sebelumnya tidak tahu bahwa fotonya dibukukan dan dipamerkan, menyatakan sangat senang. Sim Chi Yin juga berjanji akan menemuinya ketika nanti berkunjung ke Malaysia.

Peluncuran esai foto tersebut, dihadiri menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Ketua BNP2TKI, Jumhur Hidayat, Niken dari kementrian Pemberdayaan Perempuan, Aktifis perempuan Ratna Sarumpaet, wartawan, LSM, dan para mantan buruh migran. (Sus Woyo)

Ahli Waris Sri Nuyanti Terima Asuransi

Ahli Waris Sri Nuryanti Sukses Perjuangkan Klaim Asuransi TKI

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jawa Tengah, Drs. AB. Rachman. M.Si, bersama perwakilan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni”, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta(PPTKIS) PT. Phinisi, serta Mujahidin, Kepala Desa Karangsari, Kecamatan Sumbang, Banyumas, menyerahkan klaim asuransi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atas nama Sri Nuryanti, kepada ahli warisnya (1/10/11).

Penyerahan ganti rugi sebesar Rp. 55.000.000 dilakukan langsung di rumah ahli waris Sri Nuryanti di Desa Karangsari, Sumbang Banyumas. Pihak Sri Nuryanti diwakili oleh orang tuanya, Rasiwen dan anak almarhumah Sri Nuryanti. Keseluruhan proses penyerahan asuransi itu berjalan lancar.

Jika klaim asuransi TKI dirinci berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 07/MEN/V/2010 tentang Asuransi TKI, maka biaya pertangunggan jaminan kematian sebesar Rp.50.000.000,- ditambah biaya pemakaman sebesar Rp.5.000.000,-. Selain mendapatkan klaim tersebut, ahli waris juga mendapatkan sumbangan dari PT. Phinisi sebesar Rp.5.000.000,- dan bantuan BNP2TKI sebesar Rp.2.500.000,-

Uang ini, tentu saja tidak bisa menggantikan nyawa Sri Nuryanti yang meninggal itu, tapi mudah-mudahan bisa digunakan untuk membantu pendidikan dan masa depan anaknya.” tutur Kepala BP3TKI kepada ahli waris dan pihak-pihak yang hadir saat penyerahan Asuransi.

Sri Nuryanti adalah TKI yang meninggal di Taiwan dua bulan lalu, karena sakit. Setelah mengalami penantian yang cukup panjang, dan melalui proses hukum yang rumit di Taiwan, ahirnya Jenazah perempuan satu anak itu dipulangkan ke kampung halaman di Desa Karangsari, 2 KM arah timur Kota Purwokerto.

Kedatangan jenazah itu, ahirnya mematahkan simpang siuran tentang meninggalnya Sri Nuryanti, karena pihak keluarga, terutama kedua orang tuanya, sempat tidak percaya dengan kematiannya. Padahal kades Karangsari, Mujahidin, sudah meyakinkannya dengan data-data lengkap dari Taiwan.

Rumitnya birokrasi di negara tempat Sri Nuryanti bekerja, menjadikan proses penanganan kasus kematian Sri Nuryanti seperti terkatung-katung dan terkesan lamban. Sampai-sampai, Komisi D DPRD Banyumas turun tangan memanggil beberapa pihak yang terkait dengan penanganan kasus kematian terebut.

Pihak-pihak yang dipanggil diantaranya adalah Dinsosnakertrans, pihak PPTKIS sebagai perusahaan yang memberangkatkan, Seruni Banyumas sebagai pendamping keluarga, dan kedua orang tua Sri Nuryanti untuk membicarakan upaya pemulangan jenazah Sri Nuryanti di Kantor Dewan.

Selama acara penyerahan klaim asuransi TKI tersebut, semua pihak menjadi lega, termasuk ahli waris almarhumah yang sudah menerima kematian Sri Nuryanti sebagai sesuatu yang sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Penyerahan asuransi ini dinilai oleh ketua Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas, Lili Purwani, termasuk lancar, cepat, dan sesuai prosedur. (Sus Woyo)