Total Tayangan Laman

Senin, 17 Oktober 2011

Menjadi TKW, Demi Investasi Pendidikan Anak


BANYUMAS. Rakinah (57), tersenyum lebar. Raut mukanya kelihatan sangat cerah. Barangkali, inilah cermin bahwa hatinya sedang sangat damai. Ketiga anaknya sedang berkumpul dan cucu-cucunya juga ikut meramaikan suasana rumah perempuan itu.

Kondisi demikian, mungkin tak kan pernah tercipta jikalau wanita yang berasal dari desa Cihonje, Gumelar, Banyumas itu, 15 tahun yang lalu tidak mengambil sebuah keputusan besar, ketika suaminya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga anaknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar.

Menikah lagi? Atau bekerja untuk membiayai sekolah anak? Keduanya mempunyai resiko. Menikah lagi, tentu akan segera mendapatkan pendamping hidupnya, tapi belum tentu nantinya sang suami baru itu mau menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang sekolah lanjutan atas. Bekerja? Tentu akan bisa mendapatkan biaya untuk meneruskan sekolah anak-anaknya. Tapi ia harus rela menjanda dulu dalam waktu yang cukup lama tentunya.

Perempuan itu dihadapkan pada dua masalah yang semuanya baik. Tapi ia harus tetap memilih. Karena konsekwensi hidup demikian adalah harus memilih dan harus membuat sebuah keputusan besar.

Ahirnya, ia memilih untuk bekerja. Tiga anaknya dititipkan kepada kakek neneknya. Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan tanah air menuju Arab Saudi untuk bekerja sebagai penata laksana rumah tangga, alias pembantu.

Waktu terus berjalan, ia berkomitmen bahwa ketiga anaknya harus bisa sekolah, minimal sampai lanjutan atas. Sehingga dengan impian seperti itu, ia dengan sekuat tenaga ingin membuktikannya.

Kalau orang lain, bekerja di luar negeri lantas segera membuat rumah bagus, perempuan ini lain . Rumahnya dibiarkan apa adanya dulu. Masih seperti semasa suaminya hidup, belum bertembok semen. Ia sedang fokus untuk menginvestasikan ilmu kepada anak-anaknya lewat lembaga pendidikan berupa sekolah.

Tetangganya pernah mengkritik bahwa menyekolahkan anak ke kota, apalagi sampai tingkat lanjutan atas, itu sama artinya mendaftar jadi orang miskin. Karena biaya yang dikeluarkan tentunya besar. Namun kritikan itu tak pernah ia pedulikan. Ia biarkan rumahnya dari bambu, asal anak-anak bisa melanjutkan sekolah.

Sepuluh tahun kemudian, perempuan itu tersenyum. Beratnya menghadapi para majikan tanah Arab, tak sebanding dengan sukses ketiga anaknya bisa menamatkan sekolah. Anak yang pertama, yang punya bakat menjadi pendidik, berkarir sebagai seorang pembimbing rohani di sebuah departemen milik pemerintah. Anaknya yang kedua, lulus dari SMK akuntansi, menapaki hidup sebagai seorang wirausahawan, dengan membuka warung kelontong di depan rumahnya. Yang terahir, laki-laki yang punya kelebihan di elektronik, setamat dari SMK elektro, membuka usaha bengkel televisi dan kulkas.

Perempuan yang kini mulai berumur itu masih mengumbar senyum. Menikmati hasil usaha kerasnya puluhan tahun dibawah aturan majikan negeri raja Fadh. Jika dulu ia memutuskan untuk menikah lagi, mungkin arah nasibnya juga akan lain.

Bak seorang Hamka, ia bertutur: “Anak-anak kecil begitu menyenangkan hati orang tuanya karena lucunya, dan ketika menginjak dewasa akan membahagiakan orang tuanya karena sukses dalam hidupnya”.

Ahirnya, siapapun orangnya, entah itu dosen atau guru TK, entah itu majikan atau pembantu rumah tangga, entah itu pengusaha atau pengangguran, tetap harus mau membuat keputusan besar dalam hidup ini, jika ingin sukses!

Dan Rakinah, di tahun 2011 ini, telah sukses mengegolkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi darinya, di tengah 4.900 anak usia SLTP di kabupaten Banyumas, tak bisa melanjutkan sekolah, karena ketiadaan biaya. (SusWoyo)

Jumat, 14 Oktober 2011

Abu Kecewa Penempatan TKI di Brunei Tidak Sesuai Kompetensi

Abu Kecewa Penempatan TKI di Brunei Tidak Sesuai Kompetensi

Abu Rizkon sangat kecewa dengan kebohongan calo dari sebuah Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang memberangkatkan dirinya. Laki-laki yang beralamat di Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Banyumas itu merasa diperlakukan tidak jujur saat ia mendaftar untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Brunei Darussalam.

Abu tertarik dengan lowongan bidang peternakan dan sopir pribadi yang diinformasikan sang perekrut tersebut. Namun ketika visa itu turun, ternyata pekerjaan yang tertulis di visa itu adalah grass cutting alias tukang rumput. Laki-laki itu kecewa. Ketika mengadu pada calo yang akan memberangkatkannya, jawaban yang diterima hanya “Berangkat saja, jangan terlalu banyak memilih.”

Abu sangat kecewa dengan jawaban tersebut. Abu tidak bisa membela diri dengan kenyatan seperti itu dan akhirnya terpaksa ia harus berangkat. Ternyata benar sekali, saat hari pertama bekerja, ia harus menggendong mesin rumput bersama teman-teman lain yang berkebangsaan India dan Bangladesh.

Selama seminggu bekerja, Abu sakit. Ia tak ada selera makan. Ia tak tahan bekerja di bawah terik matahari dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Ia merasa fisiknya tak setangguh teman-temannya yang dari kawasan Asia Selatan.

Ketika mengadukan beban kerja yang diterimanya pada agen yang memberangkatkan, ia justru menerima jawaban yang kurang memuaskan dan sangat memojokkan dirinya. Sampai pada akhirnya, ia dinilai oleh majikannya tidak bisa bekerja seperti para pekerja yang lain, yang berasal dari India dan Bangladesh.

“Kamu harus pulang ke Indonesia. Aku rugi punya pekerja macam kamu. Besok kuantar pulang lewat Pontianak.” kata Rusli Zakaria seperi ditirukan Abu Rizkon.

Abu pasrah setelah mengadu ke agen dan KBRI tidak berhasil, bahkan hanya menerima cemoohan. Pada ahirnya ia dipulangkan lewat jalur darat oleh majikannya. Menggunakan bus, ia dibelikan tiket menuju Pontianak, Kalimantan Barat, melalui Kuching, Malaysia Timur. Dan ahirnya ia naik kapal laut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

“Biar saya saja yang mengalami nasib demikian. Saya tidak ingin ada keluarga saya, atau siapapun yang bernasib pedih seperti saya. Saya ingin para penguasa tahu hal yang seperti ini. Saya kecewa dengan agen yang memberangkatkan dan pihak kedutaan”

Laki-laki itu sekarang sudah di Indonesia, dengan goresan luka yang banyak. Ia berharap pada PPTKIS untuk berbuat jujur. Kalau tidak ada jenis pekerjaan yang sesuai kemampuan calon pekerja, kenapa harus berbohong?, bukankah ketidaksesuaian kompetensi seorang calon pekerja dengan jenis pekerjaan yang ada akan memuculkan pelbagai persoalan saat calon pekerja sudah berada di negara tujuan?. Abu juga berharap pemerintah lebih peduli dengan para TKI yang pulang ke tanah air dengan kegagalan. (Sus Woyo)

Fenomena TKI: Para Suami TKI Butuh Pendampingan Khusus

Fenomena TKI: Para Suami TKI Butuh Pendampingan Khusus

Suwedo (45), Kepala Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah, sempat termenung sejenak saat Suswoyo, salah satu pegiat Paguyuban Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas bertanya tentang kondisi buruh migran di desanya. Saat ditemui di Kantor Desa, lelaki yang biasa disapa Edo itu menyampaikan rasa kecewa yang luar biasa atas prilaku para suami buruh migran di desanya. Sang Kepala Desa menilai para lelaki yang ditinggal istrinya ke luar negeri tersebut tidak berbuat amanah. Sementara sang istri menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang, para suami banyak yang menyelewengkan hartanya.

Memang tidak semua laki-laki yang ditingal istrinya berbuat demikian, tetapi perbuatan negatif mereka cukup menjadikan kesan yang kurang sedap di mata kebanyakan orang.” ujar Kepala Desa dengan ekspresi sangat kecewa.

Suwedo menuturkan, para pria itu, kerap berkumpul bersama di suatu tempat. Karena merasa senasib (baca: ditinggal istri bekerja ke luar negeri), pertemuan mereka sering menjadi asyik. Mirip seperti kelompok arisan, mereka secara bergantian berkumpul dari satu rumah anggota ke rumah anggota yang lain. Terkadang, suatu waktu mereka bersama-sama pergi ke lokasisasi.

Menurut Suwendo uang kiriman istri di luar negeri begitu saja dihambur-hamburkan antar anggota kelompok. Bahkan, mereka juga memiliki tradisi buruk, yakni saling mentraktir minuman keras.

Apa yang disampaikan Kepala Desa Pekaja tersebut bukanlah isapan jempol. Hal ini juga diakui langsung oleh Warsun (32), laki-laki yang ditinggal kerja istrinya di Malaysia.

Sekadar untuk hiburan mas. Nggak ada istri itu sebenarnya stress.” ujar laki -laki yang foto istrinya menjadi cover buku “Jalan Pulang yang Panjang” karya Sim Chi Yin, jurnalis “The Strait Time”.

Warsun yang sehari-hari bekerja sebagai tukang batu, juga menikmati hidup di komunitas tersebut. Warsun merasa ada yang hilang manakala satu hari saja tidak meminum minuman beralkohol. Baginya minuman terlarang itu adalah hiburan tersendiri untuk mengobati kesendiriannya di tinggal istrinya bekerja di luar negeri. Bagi Kepala Desa seperti Suwedo, perilaku Warsun dan kelompoknya itu menjadi perhatian khusus yang harus segera dicarikan jalan keluar.

Kami berharap ada lembaga atau apapun yang peduli dengan perilaku masyarakat ini, paling tidak ada semacam pembinaan mental bagi para suami, agar selama ditinggal bekerja di luar negeri oleh istrinya mereka tidak berbuat negatif.” tutur Suwendo.

Keprihatinan serupa juga diungkapkan Narsidah Sanwi, pegiat Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas. “Yang jelas sangat memprihatinkan. Satu sisi, istri sedang mencari nafkah untuk perbaikan ekonomi, disisi lain dia (TKI) harus berpisah dengan keluarga (suami). Seharusnya para suami harus bisa berpikir lebih dalam, harus saling mendukung. Boleh dikatakan istri yang sedang menjadi TKI telah menggantikan peran suami sebagai pencari nafkah utama. Suami yang ditinggalakan bekerja di luar negeri perlu pembekalan tersendiri.” tutur Narsidah.

Rabu, 12 Oktober 2011

Sugiyani, TKI Asal Banyumas, Kisah dan Fotonya Diabadikan di Buku Internasional

Sugiyani, TKI Asal Banyumas, Kisah dan Fotonya Diabadikan di Buku Internasional

Tidak ada yang menyangka sebelumnya, kalau Sugiyani (29), seorang perempuan asal Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah akan menjadi cover buku yang beredar di seluruh dunia. Gara-garanya adalah, Sim Chi Yin, jurnalis “The Strait Time” asal Singapura, yang tertarik dengan kehidupan para Buruh Migran Indonesia (BMI).

Ketertarikan Sim Chi Yin menulis tentang BMI, awalnya karena ia sering melihat banyak buruh migran bunuh diri saat bekerja di Singapura dan mereka kebanyakan adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sim Chi Yin kemudian tergugah untuk bertanya, ada apa di balik itu semua?.
Dia menulis tentang buruh migran bertujuan untuk memberitahu para majikan dan masyarakat Singapura tentang kehidupan TKI ketika di kampung halaman. Sebagian TKI perempuan atau biasa disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW) adalah seorang ibu bagi anak-anaknya, TKW juga menjadi seorang istri, TKW mempunyai keluarga, dan mempunyai orang-orang yang disayangi. Semua hal itulah yang disoroti Sim Chi Yin agar para majikan mengetahui lebih dalam tentang TKI, sehingga mereka lebih memanusiakan TKI.

Buku yang ditulis Sim Chi Yin berjudul “Jalan Pulang yang Panjang ” (The Long Road Home), diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dengan sampul muka, seorang perempun muda memakai pakaian butut dan sandal jepit sedang berjalan keliling desa untuk menjual “mendoan”, makanan khas Banyumas, yang terbuat dari tempe.

Perempuan muda di sampul buku itu adalah Sugiyani (29). Seorang ibu muda yang menyimpan segudang kisah kehidupan, terutama perjalanan hidupnya sebagai seorang buruh migran. Tak berlebihan jika Sim Chi Yin, yang tulisannya sering muncul di The New York Times, International Herald Tribune, dan Los Angeles Times, memilih perempuan yang kehidupan selepas sekolahnya habis untuk berjuang di negeri seberang tersebut.

Sugiyani adalah salah satu potret dari sekian banyak TKI perempuan dengan kisah kehidupan yang menyentuh sebagai pekerja rumah tangga. Dia juga pernah menjadi bagian dari pekerja Indonesia yang berhadapan dengan majikan-majikan sadis. Seperti halnya TKI lain, ia juga merasakan situasi jauh dari keluarga, merasa kesepian dan frustasi. Sebagai TKI, Sugiyani pernah bekerja di Arab Saudi, Uni Emirat, Singapura dan sekarang di negerinya Mahathir Mohammad, Malaysia.

“Mendengar dan membaca kehidupan Sugiyani, bagaikan membaca novel religi, yang di dalamnya banyak mengandung hikmah bagi kehidupan ini…” kata Elly, mahasiswa Sosiologi Unsoed yang sedang mengamati persoalan buruh migran di Banyumas.

Menurut Elly (19), jika ada tokoh utama pasti ada tokoh lain yang mempengruhi kehidupannya. Di sekeliling Sugiyani, tentu ada suami, istri, dan orang tuanya. Merekalah yang banyak mempengruhi perjalanan hidupnya.

Saat potret Sugiyani dipilih ia menjadi sampul buku, menurut Elly, diharapkan tidak hanya sekadar sampul yang menjadi goresan sejarah saja, namun lebih berdampak terhadap perbaikan penanganan berbagai kasus TKI.

Masih menurut Elly, aktivis mahasiswa itu menyampaikan kisah dan pengalaman yang dialami Sugiyani beserta orang-orang di sekitarnya, tentu sangat menarik untuk diteliti dan disampaikan ulang pada masyarakat, khususnya komunitas BMI dan masyarakat di negara tujuan TKI. Bagaimanapun juga, suami yang ditinggal istri bekerja ke luar negeri, tentu mempunyai segudang kisah. Anak TKI yang bertahun-tahun diasuh oleh seorang nenek, tentunya jauh berbeda dengan mereka yang langsung diasuh oleh ibu kandungnya.

Warsun, suami Sugiyani dan juga Rola, anak semata wayangnya, tak pernah menyangka istrinya akan dijadikan sampul buku yang disponsori oleh organisasi perburuhan internasional, ILO. Bahkan ketika dihubungi Narsidah, pegiat pada Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni”, Warsun sempat kaget. Dulu, Sim Chi Yin memang pernah tinggal satu minggu di rumahnya. Tapi ia tak mengira hasil jepretan foto itu akan dijadikan buku, dan istrinya menjadi sampul buku tersebut.

Ketika ia dan anaknya diundang untuk hadir dalam launching buku “Jalan Pulang yang Panjang” tersebut di Taman Ismail Marzuki, istrinya yang masih bekerja di Kuala Lumpur Malaysia, melarangnya. Alasan Sugiyani karena takut terjadi apa-apa dengan suami dan anak semata wayangnya.

Namun ketika diyakinkan oleh Sudirman, Sekretaris Desa Pekaja, Warsun menjadi tambah percaya diri. Menurut Narsidah yang mendampinya saat peluncuran (launching) buku Esai foto tersebut (29/09/2011), Warsun dan anaknya sangat menikmat acara tersebut.

Saat diJakarta kemarin Sim Chi Yin berhasil menghubungi Sugiyani yang sedang bekerja di Malaysia. Sugiyani yang sebelumnya tidak tahu bahwa fotonya dibukukan dan dipamerkan, menyatakan sangat senang. Sim Chi Yin juga berjanji akan menemuinya ketika nanti berkunjung ke Malaysia.

Peluncuran esai foto tersebut, dihadiri menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Ketua BNP2TKI, Jumhur Hidayat, Niken dari kementrian Pemberdayaan Perempuan, Aktifis perempuan Ratna Sarumpaet, wartawan, LSM, dan para mantan buruh migran. (Sus Woyo)

Ahli Waris Sri Nuyanti Terima Asuransi

Ahli Waris Sri Nuryanti Sukses Perjuangkan Klaim Asuransi TKI

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jawa Tengah, Drs. AB. Rachman. M.Si, bersama perwakilan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni”, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta(PPTKIS) PT. Phinisi, serta Mujahidin, Kepala Desa Karangsari, Kecamatan Sumbang, Banyumas, menyerahkan klaim asuransi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atas nama Sri Nuryanti, kepada ahli warisnya (1/10/11).

Penyerahan ganti rugi sebesar Rp. 55.000.000 dilakukan langsung di rumah ahli waris Sri Nuryanti di Desa Karangsari, Sumbang Banyumas. Pihak Sri Nuryanti diwakili oleh orang tuanya, Rasiwen dan anak almarhumah Sri Nuryanti. Keseluruhan proses penyerahan asuransi itu berjalan lancar.

Jika klaim asuransi TKI dirinci berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 07/MEN/V/2010 tentang Asuransi TKI, maka biaya pertangunggan jaminan kematian sebesar Rp.50.000.000,- ditambah biaya pemakaman sebesar Rp.5.000.000,-. Selain mendapatkan klaim tersebut, ahli waris juga mendapatkan sumbangan dari PT. Phinisi sebesar Rp.5.000.000,- dan bantuan BNP2TKI sebesar Rp.2.500.000,-

Uang ini, tentu saja tidak bisa menggantikan nyawa Sri Nuryanti yang meninggal itu, tapi mudah-mudahan bisa digunakan untuk membantu pendidikan dan masa depan anaknya.” tutur Kepala BP3TKI kepada ahli waris dan pihak-pihak yang hadir saat penyerahan Asuransi.

Sri Nuryanti adalah TKI yang meninggal di Taiwan dua bulan lalu, karena sakit. Setelah mengalami penantian yang cukup panjang, dan melalui proses hukum yang rumit di Taiwan, ahirnya Jenazah perempuan satu anak itu dipulangkan ke kampung halaman di Desa Karangsari, 2 KM arah timur Kota Purwokerto.

Kedatangan jenazah itu, ahirnya mematahkan simpang siuran tentang meninggalnya Sri Nuryanti, karena pihak keluarga, terutama kedua orang tuanya, sempat tidak percaya dengan kematiannya. Padahal kades Karangsari, Mujahidin, sudah meyakinkannya dengan data-data lengkap dari Taiwan.

Rumitnya birokrasi di negara tempat Sri Nuryanti bekerja, menjadikan proses penanganan kasus kematian Sri Nuryanti seperti terkatung-katung dan terkesan lamban. Sampai-sampai, Komisi D DPRD Banyumas turun tangan memanggil beberapa pihak yang terkait dengan penanganan kasus kematian terebut.

Pihak-pihak yang dipanggil diantaranya adalah Dinsosnakertrans, pihak PPTKIS sebagai perusahaan yang memberangkatkan, Seruni Banyumas sebagai pendamping keluarga, dan kedua orang tua Sri Nuryanti untuk membicarakan upaya pemulangan jenazah Sri Nuryanti di Kantor Dewan.

Selama acara penyerahan klaim asuransi TKI tersebut, semua pihak menjadi lega, termasuk ahli waris almarhumah yang sudah menerima kematian Sri Nuryanti sebagai sesuatu yang sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Penyerahan asuransi ini dinilai oleh ketua Paguyuban Peduli Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas, Lili Purwani, termasuk lancar, cepat, dan sesuai prosedur. (Sus Woyo)